welcome

Hai hai hai ...
Blog ini adalah blog yang berisi hal-hal seputar pendidikan, kebahasaan, kesusastraan, percintaan dan umum...

Selamat datang di blog saya ...
Selamat membaca tulisan-tulisan saya ...
Semoga menggugah selera ...
Selera Anda adalah inspirasi saya ...


Oh ya jangan lupa silahkan juga kunjungi ...
*my twitter on https://twitter.com/misy_2014
*my email http://profile.yahoo.com/AKCYPOGQN3Q6NZG52KVHGINC6E/
*my linked in : https://id.linkedin.com/pub/anita-misriyah-missy/a4/9b5/31a
*my ask.fm http://ask.fm/mis_missy
*my instagram : anita_misriyah
*my line : Missy


Thank you all ...

Senin, 31 Oktober 2011

PROBLEMATIKA KEBAHASAAN PSIKOLINGUISTIK

PROBLEMATIKA KEBAHASAAN PSIKOLINGUISTIK

Ditulis untuk memenuhi salah satu tugas kelompok
Mata Kuliah : Kapita Selekta Bahasa.
Dosen : Mukhlis, S.Pd., M,Pd.


 







Oleh :
                  NAMA                                                    NPM
*      Agung Wibawa                                   08410201
*      Anita Misriyah                                    08410204
*      Biyas Murwat P                                  08410208
*      Dhiyas Rezky H                                  08410212
*      M. Faiz Nashar                                    08410227
*      Puji Hariyanto P.                                 08410233
*      Vita Eviana                                         08410242
*      Yani Indah P.                                      08410244
Kelas : 6 E



IKIP PGRI SEMARANG
FAKULTAS PENDIDIKAN BAHASA DAN SENI
PENDIDIKAN BAHASA DAN SASTRA INDONESIA
2011
BAB I
PENDAHULUAN

A.       LATAR BELAKANG
Bahasa merupakan satu wujud yang tidak dapat dipisahkan dari kehidupan manusia, sehingga dapat dikatakan bahwa bahasa itu adalah milik manusia yang telah menyatu dengan pemiliknya. Sebagai salah satu milik manusia, bahasa selalu muncul dengan segala aspek dan kegiatan manusia. Tidak ada satu kegiatan manusiapun yang tidak disertai dengan kehadiran bahasa. Oleh karena itu, jika orang bertanya apakah bahasa itu, maka jawabannya bahasa adalah alat untuk menyampaikan isi pikiran, bahasa adalah alat untuk berinteraksi, mengekspresikan diri, menampung hasil kebudayaan dan lain-lain.
Bahasa yang menjadi objek kajiannya mendekati bahasa bukan sebagai sesuatu yang lain. Kalau bahasa adalah objek kajian linguistik harus dibedakan dari berbahasa, yakni kegiatan manusia dalam memproduksi dan meresepsi bahasa itu, yang dimulai dari kode semantik dalam otak pembicara dan berujung dalam semantik pada otak pendengar. Kalau bahasa ini merupakan kajian psikolinguistik yakni bidang ilmu antar disiplin atara psikologi dan linguistik. Hasil kajian psikolinguistik banyak dimanfaatkan dalam memahami pemerolehan bahasa pertama ataupun bahasa asing.

B.       RUMUSAN MASALAH
1.    Apa yang dimaksud dengan psikolinguistik?
2.    Bagaimanakah perkembangan bahasa anak yang mempengaruhi problematika kebahasaan bidang psikolinguistik?
3.    Bagaimanakah faktor gangguan kebahasaan yang mempengaruhi bidang psikolinguistik?



C.      TUJUAN
1.    Mendeskripsikan pengertian psikolinguistik.
2.    Mengetahui perkembangan bahasa anak yang mempengaruhi problematika kebahasaan bidang psikolinguistik.
3.    Mengetahui faktor gangguan kebahasaan yang mempengaruhi bidang psikolinguistik.

D.      MANFAAT
Adapun manfaat dalam penulisan makalah ini yaitu memberikan informasi tentang problematika kebahasaan bidang psikolinguistik karena diharap bisa diterapkan dalam pembelajaran Kapita Selekta Bahasa.




















BAB II
PEMBAHASAN

1.        Pengertian Psikolinguistik.
Menurut Aitchison (Dardjowidodo, 2003:7) berpendapat bahwa psikolinguisik adalah studi tentang bahasa dan otak  atau pengetahuan. Mempengaruhi proses mental-mental dalam pemakaian bahasa.
Sebelum menggunakan bahasa, seorang pemakai bahasa terlebih dahulu memperoleh bahasa. Dalam kaitan ini, Levelt (Marat, 1083:1) mengemukakan bahwa psikolinguistik adalah suatu studi mengenai penggunaan dan pemerolehan bahasa oleh manusia.
Pada hakikatnya dalam kegiatan berkomunikasi terjadi proses memproduksi dan memehami ujaran. Sehingga psikolinguistik studi tentang mekanisme mental yang terjadi pada orang yang menggunakan bahasa, baik pada saat memproduksi atau memahami ujaran.
Kesimpulannya, psikolinguistik adalah ilmu yang mempelajari perilaku berbahasa, baik yang tampak maupun yang tidak tampak berupa persepsi, pemproduksian bahasa, dan pemerolehan bahasa.
  
2.        Perkembangan Bahasa Anak yang Mempengaruhi Problematika Kebahasaan Bidang Psikolinguistik.
a.         Tahap merabaan (Pralinguistik) pertama:
Pada tahap ini terjadi pada usia 0-8 bulan, bayi mulai menangis, tertawa menghasilkan bunyi yang lain. Merupakan awal dari segala bunyi ujaran yang ditemui dalam segala bahasa dunia.
Contoh problematika psikolinguistik: mengucap bunyi-bunyi yang tidk baku dan susah dimengerti.
·      Kata “ Neh” yang berarti haus atau ingin minum.
·      Kata “Eh” yang berarti lelah, ingin tidur.
·      Kata “Owh” yang berarti ingin sendawan.
Solusi : disesuaikan dengan persepsi atau tanggapan orang yang memaknai.
b.      Tahap merabaan (pralinguistik) kedua:
Pada tahap ini terjadi pada bayi berusia 8-12 bulan. Pada tahap ini merupakan tahap si bayi mulai berbicara omong kosong tanpa makna. Tidak menghasilkan kata yang dapat dikenal, tapi mereka berbuat seolah-olah mengatur ucapan mereka sesuai pola suku kata.
Contoh problematikanya: berbicara omong kosong, tapi dapat dimengerti.
·      “ mam” yang berarti makan.
·      “pis” yang berarti buang air kecil.
·      “ek” yang berarti buang air besar.
Solusi : membiasakan anak mengucap kata yang lebih bermakna.
c.    Tahap holofrasik (tahap linguistik pertama)
Pada tahap ini bayi berusia 12-15 bulan. Anak mulai mengucapkan kata-kata satu kata yang diucapkan berarti dipandang sebagai satu kalimat penuh. Sudah bisa dimaknai bahasanya tetapi maknanya multitafsir.
Contoh problematikanya: kata yang diucapkan multitafsir.
·           Anak mengucap kata “mobil” dapat diartikan multitafsir yang berarti “saya mau mobil-mobilan”, “saya mau ikut naik mobil”, “saya mau minta diambilkan mobil mainan”.
·           Anak mengucap kata “kursi” dapat dimultitafsirkan yang berarti “saya ingin duduk di kursi”, “saya ingin dibelikan kursi”, atau hanya sekedar menunjuk kursi.
Solusi : disesuaikan dengan situasi dan kondisi dalam memaknai.
d.   Tahap ucapan dua kata
Pada tahap ini anak berusia 15-18 bulan. Pada tahap ini anak mulai memiliki banyak kemungkinan untuk menyatakan kemauannya. Mulai mengucap dua kata yang bisa dimaknai multitafsir.
Contoh problematikanya: frasa yang diucapkan multitafsir.
·           Anak mengucap frasa “sandal mama” bisa dimaknai ingin meminjam sandalnya mama atau saya minta dibelikan sandal oleh mama.
·           Anak mengucap frasa “ men enak”, artinya “permen enak” dimaknai sedang makan permen yang enak atau ingin dibelikan permen.
Solusi : tergantung konteks, situasi dan kondisi.
e.    Tahap pengembangan tata bahasa
Pada tahap ini anak berusia 19-24 bulan. Anak mulai mengucap kata jamak secara utuh. Ucapan-ucapan yang dihasilkan semakin kompleks.
Contoh problematikanya:
·           Problem : “ma, peyut adek atit”  (masih menggunakan kata baku)
Solusi : “ma perut adek sakit”
·           Problem : “ma, pengen aci goyeng”
Solusi : “ma ingin nasi goreng”
·           Problem : “emutnya nakal”
Solusi : “semutnya nakal”

f.     Tahap tata bahasa menjelang dewasa.
Anak berusia 2-5 tahun. Pada tahap ini anak semakin mampu mengembangkan strukur tata bahasa yang lebih kompleks, mampu melibatkan kalimat-kalimat yang sederhana dengan konjungsi.
Contoh dalam problematikanya:
·           Problem : “adek nggak mau sekolah karena capek”
Solusi : “adek tidak ingin sekolah karena lelah”
·           Problem : “adek cuka mimik cucu soalnya enyak”
Solusi : “adek minum susu karena enak”

g.    Tahap kompetensi lengkap
Pada tahap ini anak berusia > 5 tahun. Sudah mulai bersekolah. Pembendaharaan kata terus meningkat, gaya bahasa mengalami perubahan, dan semakin lancar serta fasih dalam berkomunikasi.
Contoh problematikanya:
·           Problem : “mah adek beliin pencil, donk. Boleh ya? Sekalian uang sangunya ditambahin, ya mah. Pokoknya adek beliin pencil balu, buku balu, tas balu”
·           Solusi : “mah adek belikan pencil. Boleh ya? Lalu uang sakunya ditambah ya mah. Pokoknya adek minta dibelikan pensil, buku, dan tas baru”

3.        Faktor Gangguan Kebahasaan yang Mempengaruhi Bidang Psikolinguistik.
a)    Latah adalah terjadi karena terkejut, berkata mengulang. Gangguan kebahasaan dalam perkataan dan perbuatan. Misalnya prikitiuw, e copot , capek deh.
b)   Kilir Lidah adalah terlalu terburu- buru mengucapkan kata sehingga kesalahan ketidaksengajaan. Misalnya : mengucap kata kelapa keliru kepala, mengucap kata antisipasi menjadi antisisapi, mengucap kata kerupuk menjadi kupruk.
c)    Kesenyapan adalah kesulitan mengucap kata- kata / pembicaraan terhenti, murni kata – kata yang ingin diucapkan hilang. Misalnya: waktu diskusi kadang susah untuk mengucapkan kata- kata/ kata – kata yang ingin diucapkan hilang.
Ada dua macam kesenyapan:
·      kensenyapan kosong yaitu tidak terisi apapun, bingung mau mengucap apa, misal problematikanya: tidak berucap apapun, diam.
·      kesenyapan isi yaitu mengucap tapi berisi, misal problematikanya: anu, itu, ehm, apa yaa.
d)   Afasia adalah tidak bisa bicara karena ada gangguan pada otak misal problematikanya: stroke
Macam afasia:
1)   Afasia Broca
·      Kerusakan atau lesion terjadi pada daerah broca/ motor area (daerah yang memerintahkan untuk berbicara).
·      Maka ujaranya terganggu (muluut mencong).
·      Gangguanya: kalimatnya patah-patah, lafalnya tidak jelas, kalimatnya banyak yang tidak berafiks, misalnya: ada kalimat: anak saya ke rumah sakit maka ucapanya saya anak rumah sakit
2)   Afasia wernicke
·      Terjadi pada wernicke (bagian belakang lobe temporal)
·      Gangguanya: bahasanya lancar tapi susah dimengerti karena susah membedakan kata.
·      Susah memahami ujaran orang lain, misalnya : malam menjadi alam, lama ; bapak menjadi batak, bapak.
3)   Afasia anomik
·      Terjadi pada perbatasan antara lobe pariental dengan lobe temporal.
·      Gangguan : susah menghubungkan konsep/ benda dengan entitas/ kata/ namanya (menghubungkan nama dengan namanya karena tidak bisa menghubungkan tanda antara buku dengan bedanya buku)
Misalnya : disuruh mengambil buku, maka ia bisa mengambilkan buku itu tapi ketika ditanya/ disuruhmenunjukan buku ia tidak bisa mengucapkannya.
4)   Afasia global (kompleks)
·      Terjadi pada beberapa daerah global.
·      Gangguan fisik : lumpuh (kanan), mulut mencong, lidah kaku.
·      Gangguan wicara : sukar memahami ujaran orang lain, ujarannya susah dipahami, pelafalan tidak jelas.
5)   Afasia konduksi
·      Terjadi pada fiber- fiber penghubung lobe frontal dan lobe temporal.
·      Gangguan : tidak dapat mengulang ujaran orang lain.
Misal : ambil buku itu di atas meja, lalu kita tanya dimana meja itu. Lalu penderita itu tidak mampu mengucapkan buku di atas meja tapi mampu menunjukkan bahwa buku di atas meja.
e)      Disatria adalah gangguan yang berupa pelafalan yang tidak jelas tetapi ujaannya utuh. Misalnya: gagap (sementara) bukan dari otak, cedal.
f)       Agnosia/ demensia adalah kesusahan membuat ide, penderita tidak dapat memformulasikan idenya dengan baik. Misalnya: bahasanya tidak teratur, susah dimengerti orang lain.
g)      Disleksia adalah gangguan tidak bisa menulis dan membaca.
Dibagi menjadi 2 :
·         Aleksia adalah hilangnya kemampuan untuk membaca bukan berarti tidak bisa membaca.
Misal : sudah kelas 6 SD masih kesulitan membaca.
·         Agrfia adalah hilangnya kemampuan untuk menulis dengan huruf- huruf yang normal.
Misalnya : anak SD menulis huruf A terbalik.

















BAB 1V
PENUTUP

A.      SIMPULAN
Bahasa merupakan satu wujud yang tidak dapat dipisahkan dari kehidupan manusia, sehingga dapat dikatakan bahwa bahasa itu adalah milik manusia yang telah menyatu dengan pemiliknya.
Psikolinguistik adalah ilmu yang mempelajari perilaku berbahasa, baik yang tampak maupun yang tidak tampak berupa persepsi, pemproduksian bahasa, dan pemerolehan bahasa. Problematika psikolinguistik meliputi faktor perkembangan bahasa anak, faktor gangguan kebahasaan.

B.       SARAN
Dalam penyusunan makalah ini penulis telah berusaha mencapai hasil yang sempurna, namun kaerena teterbatasan pencarian data dan penulis dalam menyusun makalah ini. Maka dari itu penulis mengharapkan kritik dan saran. Akhir kata semoga makalah ini bermanfaat bagi para pembaca sekalian.













DAFTAR PUSTAKA

·      Andini, Nirmala dan Aditya Pratama. 2003. Kamus Lengkap Bahasa Indonesia. Surabaya : Prima Media.
·      Mar’at, Samsunuwiyati. 2005. Psikolinguistik Suatu Pengantar. Bandung : PT Refika Aditama.
·      Chaer, Abdul. 2003. Psikolinguistik Kajian Teoritik. Jakarta : PT Rineka Cipta.



1 komentar: