welcome

Hai hai hai ...
Blog ini adalah blog yang berisi hal-hal seputar pendidikan, kebahasaan, kesusastraan, percintaan dan umum...

Selamat datang di blog saya ...
Selamat membaca tulisan-tulisan saya ...
Semoga menggugah selera ...
Selera Anda adalah inspirasi saya ...


Oh ya jangan lupa silahkan juga kunjungi ...
*my twitter on https://twitter.com/misy_2014
*my email http://profile.yahoo.com/AKCYPOGQN3Q6NZG52KVHGINC6E/
*my linked in : https://id.linkedin.com/pub/anita-misriyah-missy/a4/9b5/31a
*my ask.fm http://ask.fm/mis_missy
*my instagram : anita_misriyah
*my line : Missy


Thank you all ...

Senin, 31 Oktober 2011

ANALISIS PERBANDINGAN KOSAKATA BAHASA NUSANTARA ANTARA BAHASA SEMARANG DENGAN BAHASA KUDUS


ANALISIS PERBANDINGAN KOSAKATA BAHASA NUSANTARA ANTARA BAHASA SEMARANG DENGAN BAHASA KUDUS

Ditulis untuk memenuhi salah satu tugas individu
Mata Kuliah : Perbanus
Dosen Pengampu : Sri Wahyuni, M.Pd.




 








Oleh :
    Nama : Anita Misriyah
    NPM : 08410204
    Kelas : 7D

IKIP PGRI SEMARANG
FAKULTAS PENDIDIKAN BAHASA DAN SENI
PENDIDIKAN BAHASA DAN SASTRA INDONESIA
2011

KATA PENGANTAR

Atas berkat rahmat Tuhan Yang Maha Esa dan atas bimbingan dosen Sri Wahyuni, sehingga penulis dapat membuat karya tulis ini dengan judul Analisis Perbandingan Kosakata Bahasa Nusantara Antara Bahasa Semarang dengan Bahasa Kudus”.

Makalah ini penulis susun guna memenuhi tuntuan tugas individu dalam mata kuliah Perbanus.

Dalam penulisan makalah penulis telah berusaha untuk mencapai hasil yang sempurna, Tetapi karena keterbatasan pencarian data dan keterbatasan kemampuan penulis, maka dari itu makalah ini hanyalah sekedar hasil setapak.

Pada kesempatan ini penulis tidak lupa mengucapkan terima kasih kepada:
1.      Dosen pengampu Perbanus IKIP PGRI Semarang yang telah memberikan petunjuk atas penyusunan makalah ini.
2.      Teman-teman kelas 7D yang telah mendukung penulis dalam pembuatan makalah ini.

Akhir kata, semoga makalah ini bermanfaat bagi para pembaca terhormat.

                                                                                                                                                                                                                        Semarang, 3 Januari 2011



                                                                                                   Penulis,


BAB I
PENDAHULUAN

  1. LATAR BELAKANG
Bangsa Indonesia memiliki banyak keanekaragaman. Baik suku, budaya, maupun bahasa. Indonesia merupakan salah satu negara di dunia yang memiliki beragam jenis bahasa. Hal ini dikarenakan banyak pula suku bangsa yang menyebar ke seluruh penjuru nusantara.
Dalam ilmu perbandingan bahasa, disebutkan bahwa dalam kurun waktu tertentu terjadi perubahan-perubahan unsur bahasa suatu wilayah. Bahasa-bahasa tersebut dapat berubah berdasarkan pengaruh dari wilayah di sekitar tempat tersebut atau bahkan dari kegiatan sosial masyarakat dalam wilayah itu sendiri. Tak hanya itu, tak jarang semakin lama ada beberapa kosakata yang tidak digunakan lagi dalam wilayah tersebut sehingga kosakata tersebut lama-kelamaan akan hilang.
Daerah-daerah yang berdekatan dengan pusat penyebaran akan lebih banyak menunjukkan kemiripan-kemiripan dengan pusat penyebarannya. Kemiripan-kemiripan tersebut menunjukkan sistem kekerabatan bahasa antar wilayah. Oleh karena itu, penulis memilih untuk meneliti perbandingan bahasa antara wilayah Semarang dengan Kudus. Hal ini dikarenakan antara Semarang dengan Kudus masih termasuk ke dalam satu rumpun yaitu wilayah Jawa Tengah.

  1. RUMUSAN MASALAH
Permasalahan dalam makalah ini adalah :
1)      Apa pengertian Perbanus ?
2)      Bagaimana Penggolonga Bahasa Austronesia itu?
3)      Apa pengertian rumpun Bahasa Nusantara?
4)      Bagaimana ciri khas Bahasa Jawa dialek Semarang dengan Bahasa Jawa dialek Kudus?
5)      Bagaimana Analisis Perbandingan Kosakata Bahasa Nusantara Antara Bahasa Semarang dengan Bahasa Kudus?


  1. TUJUAN PENULISAN
a)      Mengetahui Seluk-beluk Perbanus
b)      Mengetahui Penggolongan Bahasa Austronesia
c)      Mengetahui Pengertian Bahasa Nusantara
d)     Mengetahui ciri khas Bahasa Jawa dialek Semarang dengan Bahasa Jawa dialek Kudus
e)      Menganalisis Perbandingan Bahasa Nusantara Antara Bahasa Semarang dengan Bahasa Kudus


  1. MANFAAT PENULISAN
Penelitian tentang perbandingan bahasa antara Semarang dengan Kudus diharapkan memberikan pemahaman dan menambah pengetahuan bagi para pembaca. Secara teoritis diharapkan penelitian ini dapat memberikan sumbangan dalam ilmu bahasa, dan secara praktis dapat bermanfaat bagi pengajaran bahasa khususnya dalam ilmu perbandingan bahasa.







BAB II
PEMBAHASAN
A.   Pengertian Perbanus

Perbanus atau Perbandingan Bahasa Nusantara merupakan cabang kajian linguistik yang membahas topik bahasa-bahasa nusantara yang berkerabat dalam rumpun bahasa austronesia. Terminologi bahasa nusantara mengacu pada nama rumpun bahasa yang terdapat di kawasan Asia Tenggara Pasifik. Studi bahasa nusantara ini terfokuskan pada kajian linguistik.Secara historis kajian Ilmu Perbandingan Bahasa Nusantara bersumber awal pada kajian rumpun bahasa dan diawali dengan kajian linguis terhadap Rumpun Indo-Eropa (IE) yang kaya akan dokumen tuanya. Dalam Ensyclopediae of Language, Crystal menjelaskan pengertian tentang Rumpun Bahasa dan rumpun bahasa-bahasa kerabat di dunia dengan aneka informasi yang rinci. Perbanus juga membahas hakikat, konsep, dan metode dalam penelitian ilmu perbandingan bahasa nusantara sehingga mahasiswa dapat memahami dan menerapkan perbandingan bahasa-bahasa nusantara.

Yang dijadikan untuk penggolongan perbandingannya yaitu tataran bahasa ;
a)      Fonologi yaitu perbandingan dari segi bunyi
b)      Morfologi yaitu perbandingan dari segi kata
c)      Sintaksis yaitu dari segi kalimat
d)      Semantic yaitu dari segi makna
v  Dasar penggolongan bahasa ;
1.      Dasar Tipologi
Bahasa didasarkan pada tipe atau bentuk . Menurut Van Humbold, bahsa dijadikan menjadi 3 bentuk/tipe :
  1. Bahasa berisolasi yaitu Struktur bahasa didominasi kata dasar, contohnya bahasa cina
  2. Bahasa beraglumentasi yaitu Struktur bahasa yang didominasi kata berimbuhan,contohnya bahasa latin.
  3. Bahasa berfleksi yaitu Struktur bahasa tersebut ada kata dasar dan kata imbuhan , contohnya hampir bahasa di dunia tipenya tipe bahasa fleksi (termasuk bahasa Jawa).
  1. Atas dasar Genologi (keturunan atau asal muasal)
Penggolongan bahasa didasarkan pada asal usul dan sejarah perkembangannya.Ada 5 rumpun bahasa / indeks bahasa :
a)      Bahasa Nostrat (mbahne bahasa)
b)      Bahasa Indo German/ Indo Eropa (mendunia)
Contoh : India, Iran, Slafia, German, Belanda, Prancis
c)      BahasaSemit
Contoh ; Arab , Etopia, Suriyah.
d)     BahasaHamit
Contoh : Bahasa Mesir
e)      Bahasa Ural Altai
Contoh : Vilandia, Jepang, Hongaria, Turki, Eskimo, Korea.

B.   Rumpun Bahasa Austronesia
o   Pengertian Bahasa Austronesia
Rumpun bahasa Austronesia adalah sebuah rumpun bahasa yang sangat luas penyebarannya di dunia. Dari Taiwan dan Hawaii di ujung utara sampai Selandia Baru (Aotearoa) di ujung selatan dan dari Madagaskar di ujung barat sampai Pulau Paskah (Rapanui) di ujung timur.
Austronesia mengacu pada wilayah geografis yang penduduknya menuturkan bahasa-bahasa Austronesia. Wilayah tersebut mencakup Pulau Formosa, Kepulauan Nusantara (termasuk Filipina), Mikronesia, Melanesia, Polinesia, dan Pulau Madagaskar. Secara harafiah, Austronesia berarti "Kepulauan Selatan" dan berasal dari bahasa Latin austrālis yang berarti "selatan" dan bahasa Yunani nêsos (jamak: nesia) yang berarti "pulau".
Jika bahasa Jawa di Suriname dimasukkan, maka cakupan geografi juga mencakup daerah tersebut. Studi juga menunjukkan adanya masyarakat penutur bahasa Melayu di pesisir Sri Langka.
o   Penggolongan Bahasa Austronesia
Agak sulit untuk mendefinisikan struktur kekeluargaan dari bahasa-bahasa Austronesia karena rumpun bahasa Austronesia terdiri dari bahasa-bahasa yang sangat mirip dan berhubungan erat dengan kesinambungan dialek yang besar sehingga sukar untuk mengenali batasan diantara cabang. Bahkan pada pembagian terbaik yang ada sekarang banyak grup di Filipina dan Indonesia dikelompokan dari letak geografisnya alih-alih dari keterkaitannya antara satu dengan yang lainnya. Namun adalah jelas bahwa keberagaman genealogis terbesar ditemukan pada bahasa-bahasa Taiwan dan keberagaman terkecil ditemukan pada kepulauan Pasifik sehingga mendukung teori penyebaran dari Taiwan atau Tiongkok.
Penggolongan bahasa-bahasa Austronesia berikut diajukan oleh Blust. Penggolongan yang diajukannya bukanlah yang pertama dan bahkan ia juga mencantumkan paling sedikit tujuh belas penggolongan lainnya dan mendiskusikan fitur-fitur dan rincian dari pengelompokan tersebut. Beberapa ahli bahasa Formosa mempertentangkan rincian dari penggolongan itu namun penggolongan ini dalam garis besar tetap menjadi titik referensi untuk analisis ilmu bahasa saat ini. Dapat dilihat bahwa sembilan cabang utama dari bahasa Austronesia kesemuanya adalah bahasa-bahasa Formosa.
Austronesia
·                     Atayalik (Atayal, Seedik) [nama lain untuk Seediq:Truku, Taroko, Sediq]
·                     Formosa Timur
o        Utara (Basai-Trobiawan, Kavalan)
o        Tengah (Amis, Nataoran, Sakizaya)
o        Barat Daya (Siraya)
·                     Puyuma
·                     Paiwan
·                     Rukai
·                     Tsouik (Tsou, Saaroa, Kanakanabu)
·                     Bunun
·                     Dataran Rendah Barat
o        Dataran Tengah-Barat (Taokas-Babuza, Papora-Hoanya)
o        Thao
·                     Formosa Barat Laut (Saisiyat, Kulon-Pazeh)
·                     Malayo-Polinesia (Lihat di bawah)
Penggolongan bahasa-bahasa Malayo-Polinesia
Berikut adalah klasifikasi bahasa-bahasa Malayo-Polinesia yang disederhanakan oleh Wouk & Ross (2002)
·                     Bahasa Kalimantan-Filipina atau bahasa Malayo-Polinesia Barat Luar (Hesperonia Luar): terdiri dari banyak bahasa seperti Dayak Ngaju, Gorontalo, bahasa Bajau, bahasa-bahasa Minahasa, Tagalog, Cebuano, Hiligaynon, Ilokano, Kapampangan, Malagasi, dan Tausug
·                     Bahasa Malayo-Polinesia Inti (Kemungkinan menyebar dari Pulau Sulawesi)
o        Bahasa Sunda-Sulawesi atau bahasa Malayo-Polinesia Barat Dalam (Hesperonia Dalam), contoh: Indonesia Barat, Bugis, Aceh, Cham (di Vietnam dan Kamboja), Melayu, Indonesia, Iban, Sunda, Jawa, Bali, Chamoru, dan Palau
§     Bahasa Malayo-Polinesia Tengah atau bahasa Bandanesia: sekitar Laut Banda yaitu bahasa-bahasa di Pulau Timor, Sumba, Flores, dan juga di Maluku
§     Bahasa Malayo-Polinesia Timur atau disebut juga bahasa Melanesia
§          Halmahera Selatan-Papua Barat-Laut: beberapa bahasa di pulau Halmahera dan sebelah barat pulau Irian, contohnya bahasa Taba dan bahasa Biak
§          Bahasa Oseanik: Termasuk semua bahasa-bahasa Austronesia di Melanesia dari Jayapura ke timur, Polinesia dan sebagian besar Mikronesia
Salah satu cabang terbesar adalah cabang Sundik yang menurunkan bahasa-bahasa Austronesia dengan jumlah penutur terbesar yaitu: Bahasa Jawa, Bahasa Melayu (dan Bahasa Indonesia), Bahasa Sunda, Bahasa Madura, Bahasa Aceh, Bahasa Batak dan Bahasa Bali.

C.   Pengertian Bahasa Nusantara
Bahasa Nusantara adalah bahasa yang serumpun yaitu bahasa daerah. Nusantara merupakan istilah yang dipakai oleh orang Indonesia untuk menggambarkan wilayah kepulauan Indonesia dari Sabang sampai Merauke. Istilah lain yang dikenal adalah Nuswantara.
Kata ini tercatat pertama kali dalam literatur berbahasa Jawa Pertengahan (abad ke-12 hingga ke-16), namun untuk menggambarkan konsep yang berbeda dengan penggunaan sekarang. Pada awal abad ke-20 istilah ini dihidupkan kembali oleh Ki Hajar Dewantara[1] sebagai nama alternatif untuk negara lanjutan Hindia-Belanda. Setelah penggunaan nama Indonesia disetujui untuk dipakai untuk ide itu, kata Nusantara dipakai sebagai sinonim untuk kepulauan Indonesia. Malaysia memakai istilah ini namun dalam pengertian yang agak berbeda. Di Malaysia, istilah ini lazim digunakan untuk menggambarkan kesatuan geografi-antropologi kepulauan yang terletak di antara benua Asia dan Australia, termasuk Semenanjung Malaya namun biasanya tidak mencakup Filipina.
Perbandingan bahasa nusantara adalah perbandingan rumpun-rumpun bahasa yang ada di seluruh wilayah nusantara. Terdiri dari 33 propinsi yang setiap provinsinya mempunyai keanekaragaman bahasa yang bebeda. Hal yang diperbandingkan : Karakteristik bahasa / hal yang istimewa / hal yang dibandingkan, menempatkan bahasa Indonesia sebagai sistem primer(sebagai ukurannya bahasa Indonesia), Bahasa Nusantara = Bahasa daerah Bahasa I/Bahasa Ibu = Bahasa yang diperoleh pertama kali, Bahasa II = bahasa yang diperolehsetelah bahasa ibu/ bahasa I, Bahasa Indonesia juga dijadikan sebagai bahasa pemersatu.

D.   Ciri Khas Bahasa Jawa Dialek Semarang dengan Bahasa Jawa Dialek Kudus
1)    Bahasa Jawa
Bahasa Jawa adalah bahasa yang digunakan penduduk suku bangsa Jawa terutama di beberapa bagian Banten terutama kota Serang, kabupaten Serang, kota Cilegon dan kabupaten Tangerang, Jawa Barat khususnya kawasan Pantai utara terbentang dari pesisir utara Karawang, Subang, Indramayu, kota Cirebon dan kabupaten Cirebon, Yogyakarta, Jawa Tengah & Jawa Timur di Indonesia.

Variasi dalam bahasa Jawa Klasifikasi berdasarkan dialek geografi mengacu kepada pendapat E.M. Uhlenbeck (1964) [1]. Peneliti lain seperti W.J.S. Poerwadarminta dan Hatley memiliki pendapat yang berbeda.[rujukan?
Kelompok Barat
1. dialek Banten
2. dialek Cirebon
3. dialek Tegal
4. dialek Banyumasan
5. dialek Bumiayu (peralihan Tegal dan Banyumas)
Kelompok Tengah
1. dialek Pekalongan
2. dialek Kudus
3. dialek Bagelen
4. dialek Semarang
5. dialek Pantai Utara Timur (Jepara, Rembang, Demak, Kudus, Pati)
6. dialek Blora
7. dialek Surakarta
8. dialek Yogyakarta
9. dialek Madiun
Kelompok kedua ini dikenal sebagai bahasa Jawa Tengahan atau Mataraman. Dialek Surakarta dan Yogyakarta menjadi acuan baku bagi pemakaian resmi bahasa Jawa (bahasa Jawa Baku).
Kelompok Timur
1. dialek Pantura Jawa Timur (Tuban, Bojonegoro)
2. dialek Surabaya
3. dialek Malang
4. dialek Jombang
5. dialek Tengger
6. dialek Banyuwangi (atau disebut Bahasa Osing)
Contoh
* Bahasa Indonesia: "Maaf, saya mau tanya rumah Kak Budi itu, di mana?"
1. Ngoko kasar: “Eh, aku arep takon, omahé Budi kuwi, nèng*ndi?’
2. Ngoko alus: “Aku nyuwun pirsa, dalemé mas Budi kuwi, nèng endi?”
3.   Ngoko meninggikan diri sendiri: “Aku kersa ndangu, omahé mas Budi kuwi, nèng ndi?” (ini dianggap salah oleh sebagian besar penutur bahasa Jawa karena menggunakan leksikon krama inggil untuk diri sendiri)
4.  Madya: “Nuwun sèwu, kula ajeng tanglet, griyané mas Budi niku, teng pundi?”(ini krama desa (substandar)
5. Madya alus: “Nuwun sèwu, kula ajeng tanglet, dalemé mas Budi niku, teng  pundi?” (ini juga termasuk krama desa (krama substandar))
6. Krama andhap: “Nuwun sèwu, dalem badhé nyuwun pirsa, dalemipun mas Budi punika, wonten pundi?” (dalem itu sebenarnya pronomina persona kedua, kagungan dalem 'kepunyaanmu'. Jadi ini termasuk tuturan krama yang salah alias krama desa)
7. Krama lugu: “Nuwun sewu, kula badhé takèn, griyanipun mas Budi punika, wonten pundi?”
8. Krama alus “Nuwun sewu, kula badhe nyuwun pirsa, dalemipun mas Budi punika,
wonten pundi?”

Dengan memakai kata-kata yang berbeda dalam sebuah kalimat yang secara tatabahasa berarti sama, seseorang bisa mengungkapkan status sosialnya terhadap lawan bicaranya dan juga terhadap yang dibicarakan. Walaupun demikian, tidak semua penutur bahasa Jawa mengenal semuanya register itu.
Biasanya mereka hanya mengenal ngoko dan sejenis madya.

ü  Dialek Kudus
Penduduk kota Kudus pada umumnya mempunyai dialek tersendiri, dialek specifik Kudus. Meskipun mereka mempergunakan bahsa Jawa dalam percakapan maupun pergaulan setiap harinya, namum kita dapati suatu ciri, yang mungkin khas Kudus.
Baiklah disini kita bentangkan mengenai bahasa Jawa dialek Kudus. Kata - kata "ora" dalam bahasa Jawa, yang artinya dalam bahasa jawa "tidak" dalam dialek Kudus menjadi "orak".
 Kata-kata "wae" dalam bahasa Jawa, dalam dialek Kudus berubah menjadi "ae". Kemudian kita dapati pula kata - kata perangkai seperti "ndok", "tak" dan "kok". Akhiran ( mu ) dalam dialek Kudus menjadi ( em ). Umpama : dulurmu, bojomu, bapakmu, adikmu, berubah menjadi dulurem, bojoem, bapakem, adi-em, dan seterusnya.
*      Bahasa Jawa
1.      Duwek-e' sapa ?
2.      Kuwi kepriye' ?
3.      Dak jaluk kuwe' bali.
4.      Saben dina aku mre'ne'
5.      Sampeyan puniko kados pundi ?
6.      Amargi, kulo kaleres ke'sah



*      Dialek Kudus
1.      Ngge-e' sapa ?
2.      Iku piye' ?
3.      Tak jaluk kuwe' bale'k.
4.      Ben dina aku re'ne'
5.      Sampeyan niku despundi ?
6.      Keranten kulo saweg ke'sah

ü  Dialek Semarang
Bahasa Jawa Semarang adalah sebuah dialek bahasa Jawa yang dituturkan di Semarang. Dialek ini tak banyak berbeda dengan dialek di daerah Jawa lainnya. Semarang termasuk daerah pesisir Jawa bagian utara, maka tak beda dengan daerah lainnya, Yogyakarta, Solo, Boyolali dan Salatiga. Walau letak daerah Semarang yang heterogan dari pesisir (Pekalongan/Weleri, Kudus/Demak/Purwodadi) dan dari daerah bagian selatan/pegunungan membuat dialek yang dipakai memiliki kata ngoko, ngoko andhap dan madya di Semarang ada di zaman sekarang.
* Frasa: "Yo ora.." (Ya tidak) dalam dialek semarang menjadi "Yo orak too ". Kata ini sudah menjadi dialek sehari-hari para penduduk Semarang.
* Contoh lain: " kuwi ugo" (itu juga) dalam dialek Semarang menjadi "kuwi barang" ("barang" diucapkan sampai sengau memakai huruf h "bharhang").
Para pemakai dialek Semarang juga senang menyingkat frase, misalnya Lampu abang ijo (lampu lalu lintas) menjadi "Bang-Jo", Limang rupiah (5 rupiah) menjadi "mang-pi", kebun binatang menjadi "Bon-bin", seratus (100) menjadi "nyatus", dan sebagainya. Namun tak semua frasa bisa disingkat, sebab tergantung kepada kesepakatan dan minat para penduduk Semarang mengenai frasa mana yang disingkat. Jadi contohnya "Taman lele" tak bisa disingkat "Tam-lel" juga Gedung Batu tak bias menjadi "Ge-bat", dsb.
Dialek Semarang memiliki kata-kata yang khas yang sering diucapkan penuturnya dan menjadi ciri tersendiri yang membdakan dengan dialek Jawa lainnya. Orang Semarang suka mengucapkan kata-kata seperti "Piye, jal?" (=Bagaimana, coba?) dan "Yo, mesti!". Orang semarang lebih suka menggunakan kata "He'e" daripada "Yo" atau "Ya".
Orang Semarang juga lebih banyak menggunakan partikel "ik" untuk mengungkapkan kekaguman atau kekecewaan yang sebenarnya tidak dimiliki oleh bahasa Jawa. Misalnya untuk menyatakan kekaguman :"Alangkah indahnya!", orang Semarang berkata: "Apik,ik!". Contoh lain untuk menyatakan kekecewaan: "Sayang, orangnya pergi!", orang Semarang berkata: "Wonge lungo, ik"!.
Partikel "ik" kemungkinan berasal dari kata "iku" yang berarti "itu' dalam bahasa Jawa, sehingga untuk mengungkapkan kesungguhan orang Semarang mengucapkan "He'e, ik!" atau "Yo, ik".
Beberapa kosakata khas Semarang adalah: "semeh" Yang berarti "ibu" dan "sebeh" yang berarti "ayah", yang dalam dialek Jawa yang lain, "sebeh" sering dipakai dalam arti "mantra" atau "guna-guna"



E.   Analisis Perbandingan Kosakata Bahasa Nusantara antara Bahasa Semarang dengan Bahasa Kudus
1.      Analisis dari segi fonologi
Analisis dari segi fonologi yaitu analisis perbandingan dari segi bunyi yang berbeda. Yaitu perubahan dalam bahasa Indonesia kata ’’itu’’ dalam bahasa semarang menjadi ’’iku’’ kemudian dalam bahasa kudus diberi penambahan fonem ’’n’’ menjadi ’’niku’’. Kemudian dalam bahasa kudus pemambahan ’’ra’’ , dalam bahaswa semarang pemanbahan fonem ’’k“
CONTOH :
Bahasa Indonesia
Bahasa Semarang
Bahasa Kudus
itu
iku
niku
tidak
Ora-ra
orak

2.      Analisis dari segi morfologi
Analisis dari segi morfologi yaitu analisis perbandingan dari segi kata atau suku kata yang berbeda.Ada kata-kata dalam bahasa kudus dan bahasa semarang yang hampir sama, tetapi kedua daerah ini berbeda berbeda memiliki ciri khas. Yaitu ditambahi suku-suku kata tertentu.
CONTOH ;
Bahasa Indonesia
Bahasa Semarang
Bahasa Kudus
Bagaimana ini?
Piye jal?
Niku piye
Ya kan?
He’e tho
He’e no

3.      Analisis dari segi sintaksis
Analisis dari segi sintaksis yaitu analisis perbandingan dari segi tata frasa, klausa atau kalimat berbeda. Tataran dari segi sintaksis ini hampir sama antara bahasa semarang dengan bahasa kudus, tetepi bedanya dearah semarang memiliki ciri khas ada tataran frasa yang disingkat sehingga lebih ringkas.
CONTOH :
Bahasa Indonesia
Bahasa Semarang
Bahasa Kudus
Lampu Lalu Lintas
Lampu bangjo
Lampu abang ijo
Kebun binatang
Bonbin
Kebon binatang

4.      Analisis dari segi semantik
Analisis dari segi semantik yaitu analisis perbandingan dari segi makna yang berbeda. Ada kata-kata tertentu dalam Bahasa semarang dan bahasa kudus yang maknanya sangat berbeda.
CONTOH :
Kata
Makna
Semeh
Dalam bahasa semarang artinya ibu, dalam bahasa kudus artinya mantra.
Sebeh
Dalam bahasa semarang artinya ayah, dalam bahasa kudus artinya guna-guna.









BAB 1V
PENUTUP

A.    SIMPULAN
Perbanus atau perbandingan bahasa-bahasa yang ada di seluruh wilayah nusantara. Salah satu penggolongan bahasa-bahasa adalah bahasa Austronesia. Yang didalam bahasa Austronesia di dalam nya terdapat bahasa nusantara. Salah satu contoh bahasa nusantara wilayah semarang dan wilayah kudus yang berbeda. Kedua bahasa ini diperbandingkan.
Hal yang diperbandingkan : Karakteristik bahasa / hal yang istimewa / hal yang dibandingkan, perbedaan yang dikaji dari segi perbedaan fonologi, morfologi, sintaksis dan semantic. Tetapi dari perbedaan itu tetap menempatkan bahasa Indonesia sebagai sistem primer(sebagai ukurannya bahasa Indonesia) atau bahasa pemersatunya adalah bahasa Indonesia.

B.     SARAN
Dalam penyusunan makalah ini penulis telah berusaha mencapai hasil yang sempurna, namun kaerena teterbatasan pencarian data dan penulis dalam menyusun makalah ini. Maka dari itu penulis mengharapkan kritik dan saran. Akhir kata semoga makalah ini bermanfaat bagi para pembaca sekalian.











DAFTAR PUSTAKA

*      Keraf, Gorys. 1996. Linguistik Bandingan Historis. Jakarta: PT Gramedia.
*      Kurniati, Endang. 2008. Sintaksis Bahasa Jawa. Semarang: Griya Jawi.
*      Moeliono, Anton M. et al (eds). 1988. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.
*      Sudarno. 1992. Perbandingan Bahasa Nusantara. Jakarta: Arikha            Media Cipta.
*      Sutawijaya, Alam. et al. 1996. Morfologi Bahasa Indonesia. Jakarta: Departemen   Pendidikan dan Kebudayaan.


7 komentar:

  1. di semarang ada tempat rekreasi apa aja???

    BalasHapus
  2. @Rien_ banyak atuh maz,, ada goa kreo, pantai marina, taman lele, tugu muda, simpanglima, pahlawan, lawang sewu, masjid agung jawa tengah, bonbin, tanjung mas, mariokoco dll...

    BalasHapus
  3. sangat berguna ..trimakasih mbk ..
    dosenya bu Asrofah bukan ? , maju terus ikip pgri semarang ...

    BalasHapus
  4. Dosennya bu Sri Wahyuni, tapi dulu saya juga pernah diampu bu Asrofah waktu PPL :-D

    okee sama2, senang bisa membantu. Sukses terus buat kamu yah :))

    BalasHapus
  5. sip ..amin .....pasti sekarang njenengan sudah jadi guru ya ?

    BalasHapus
  6. Tingkatkan...blog ini sangat bermanfaat dengan isi yang sangat dibutuhkan oleh kalangan banyak orang. terima kasih.

    BalasHapus