welcome

Hai hai hai ...
Blog ini adalah blog yang berisi hal-hal seputar pendidikan, kebahasaan, kesusastraan, percintaan dan umum...

Selamat datang di blog saya ...
Selamat membaca tulisan-tulisan saya ...
Semoga menggugah selera ...
Selera Anda adalah inspirasi saya ...


Oh ya jangan lupa silahkan juga kunjungi ...
*my twitter on https://twitter.com/misy_2014
*my email http://profile.yahoo.com/AKCYPOGQN3Q6NZG52KVHGINC6E/
*my linked in : https://id.linkedin.com/pub/anita-misriyah-missy/a4/9b5/31a
*my ask.fm http://ask.fm/mis_missy
*my instagram : anita_misriyah
*my line : Missy


Thank you all ...

Minggu, 13 Mei 2012

KRITIK EKSPRESIF PENJELASAN LANGSUNG PENGARANG DALAM NOVEL SAMAN KARYA AYU UTAMI


KRITIK EKSPRESIF
PENJELASAN LANGSUNG PENGARANG
DALAM NOVEL SAMAN KARYA AYU UTAMI

Ditulis untuk memenuhi salah satu tugas individu
Mata Kuliah : Kritik Sastra
Dosen Pengampu : Dra. Ambarini, A.S., M. Hum.








Oleh :
Nama : Anita Misriyah
NPM : 08410204
Kelas : 7E


IKIP PGRI SEMARANG
FAKULTAS PENDIDIKAN BAHASA DAN SENI
PENDIDIKAN BAHASA DAN SASTRA INDONESIA
2011


KRITIK EKSPRESIF PENJELASAN LANGSUNG PENGARANG
DALAM NOVEL SAMAN KARYA AYU UTAMI

Justina Ayu Utami lahir di Bogor, Jawa Barat, 21 November 1968. Ia menamatkan kuliah di jurusan Sastra Rusia, Fakultas Sastra Universitas Indonesia. Ia adalah seorang aktivis jurnalis dan novelis Indonesia, pernah menjadi wartawan di majalah HumorMatraForum Keadilan, dan D&R. Tak lama setelah penutupan Tempo,Editor dan Detik di masa Orde Baru, ia ikut mendirikan Aliansi Jurnalis Independen yang memprotes pembredelan. Kini ia bekerja di jurnal kebudayaan Kalam dan di Teater Utan Kayu. Novelnya yang pertama, Saman, mendapatkan sambutan dari berbagai kritikus dan dianggap memberikan warna baru dalam sastra Indonesia.
Tulisan Ayu banyak mengenai kehidupan sehari-hari yang sederhana, tetapi menekankan aspek keadilan dan hak-hak sipil. Seperti yang tercermin dalam novel Saman. Novel Saman dikemas sangat serius tapi santai, mengupas tentang bagaimana penindasan orang yang tinggal di prabubulih. Dalam hal inilah tokoh Athanasius Wisanggeni yang tak lain adalah Saman muncul sebagai orang yang membela hak-hak orang yang tertindas. Saman sendiri adalah orang yang menggerakan mata masyarakat akan perlunya sebuah keadilan yang harus ditegakan, walau bagaimana derajat orang itu kalau memang salah, ya harus di hukum. Kutipan :

“Siapapun yang memulai, merekalah yang tetap dipersalahkan dalam hokum. Status mereka kini buron. Orang-orang yang membakar Upi, menggagahi istri Anson, mencabuti karet-karet muda, menjadi tidak relevan untuk dibicarakan hakim. Mereka malah tidak dipersalahkan.” (hal 110).

Novel Saman karya Ayu Utami merupakan novel yang menarik perhatian, menawan dan mengasikkan. Saman memberikan warna baru dalam dunia sastra. Cerita yang disampaikan terangkai sempurna. Novel ini bercerita tentang seorang pemuda yang bernama Saman, yang akhirnya menanggalkan “jubah kepastoran”nya itu, dan menjadi aktivis buron. Sebagai seorang aktivis, Saman mengembangkan hubungan seksual dengan sejumlah perempuan. Keempat tokoh perempuan tersebut adalah Shakuntala, Laila, Cok, dan Yasmin. Mereka tergolong masih muda, berpendidikan dan berkarier. Sebagai layaknya sahabat, mereka saling bertukar cerita mengenai pengalaman-pengalaman cinta yang erotis. Dan mendefinisikan seksualitas perempuan. Kutipan:

“Namaku Shakuntala. Ayah dan kakak perempuanku menyebutku sundal. Sebab aku telah tidur dengan beberapa lelaki dan beberapa perempuan. Meski tidak menarik bayaran. Kakak dan ayahku tidak menghormatiku. Aku tidak menghormati mereka. Sebab bagiku hidup adalah menari dan menari pertama-tama adalah tubuh. Seperrti Tuhan baru meniupkan nafas pada hari keempat puluh setelah sel telur dan sperma menjadi gumpalan dalam rahim, maka ruh berhutang pada tubuh. Tubuhku menari. Sebab menari adalah eksplorasi yang tak habis-habis dengan kulit dan tulang-tulangku, yang dengannya aku rasakan perih, ngilu, gigil, juga nyaman. Dan kelak ajal.
Tubuhku menari. Ia menuruti bukan nafsu melainkan gairah. Yang sublim. Libidinal. Labirin” (hal.115-116)


Dalam novel saman, dengan kata-kata yang membuat telinga tercengang, sangat kental dengan sex. Ayu Utami secara langsung juga mengungkapkan cinta terlarang yang dijalani Laila dan Sihar. Laila jatuh cinta pada seorang yang sudah beristri. Laila sangat mencintai Sihar dan ingin berhubungan badan dengan Sihar, walaupun Sihar sudah beristri. Dan dengan menggebu-gebunya, serasa laila ingin sekali bercinta dengan sihar. Kutipan:

“Lalu cinta menjadi sesuatu yang salah. Karena hubungan tidak tercakup kedalam konsep yang dinamakan pernikahan. Ia sering merasa berdosa pada istrinya Semakin lama, itu seperti semakin menghantuinya.” (hal 26)
“Dan kita di New York,. Beribu-ribu mil dari Jakarta. Tak ada orang tua, tak ada istri. Taka da dosa Tapi kita bisa kawin lalu bercerai. Taka da yang perlu ditangisi. Bukankah kita saling mencintai “  (hal 30)
                                         
Meskipun Ayu Utami selalu mengungkapkan tentang berhubungan badan atau sex bebas dalam novel ini, tetapi Ayu juga tidak melupakan adat ketimuran kita. Dia dengan pawainya membubuhi ceritanya dengan adat ketimuran. Ayu membandingkan antara adat timur dan barat. Yang sebenarnya mengajarkan kita untuk ingat bahwa kita berada dalam budaya timur yang masih terikat dengan norma-norma. Seperti dalam kutipan :

“Di tanah ini orang-orang berkisah tentang negerimu. Dan negeri kami, orang-orangmu dan orang-orang kami. Kami orang timur yang luhur. Kalian Barat yang bejat. Kaaum wanitanya memakai bikini di jalan raya dan tidak menghormati keperawanaan, sementara anak-anak sekolahnya, lelaki dan perempuan hidupbersama tanpa menikah. Di negeri ini sex adalah milik orang dewasa lewat penikahan.” (hal 135)
                                                 
Penulisan Novel Saman ini Ayu Utami mengajak mengajak umat Katolik untuk kritis terhadap hidup menggereja, yang merupakan kenyataan social dilingkungan kita. Tetapi hal ini terkadang justru membuat kebingungan pembaca. Apalagi pembaca yang tidak tahu menahu tentang hidup menggereja. Tetapi sebenarnya dari penjelasan pengarang ini memberikan pengetahuan kepada pembaca tentang hidup menggereja, seorang pastor, kegiatan misa dan lain-lain. Seperti dalam kutipan:

“Dia adalah satu di antara tiga lelaki yang berada dalam cahaya yang masuk dari tiga jendela di atas altar. Terang yang lain menerobos lewat fragmen kaca patri yang terjajar sepanjang dinding gereja. Bayangan-bayangan pun jatuh, memanjang ke tujuh penjuru dari kaki pilar-pilar korintia. Juga dari kaki patung para sanctus. Terang yang paling kecil datang dari lilin-lilin yang dinyalakan koster sebelum misa pentahbisan dimulai. Tiga pemuda itu berjubah putih, lumen de lumine, dan Bapa Uskup dengan mitra keemasan memanggil nama mereka satu persatu. Juga namanya: Athanasius Wisanggeni.”
(hal 40)
                   
Dalam novel ini, betapa “jorok” Ayu Utami memadukan kata-kata atau bahasa dalam novel ini, hal tersebut bukan menjadi masalah sebab karya sastra selalu berkembang dan dinamis, sesuai tuntutan zaman dan masyarakat pendukungnya. Dari penjelasan kata-kata Ayu Utami, terkesan vulgar dan blak-blakan dalam tiap karyanya. Membangkitkan nafsu birahi pembaca. Seperti dalam kutipan:

“Kami melakukannya tanpa melepaskan pakaian, sebab hari masih terlalu dingin untuk telanjang. Setelah itu, mengulanginya di kamar hotel, tanpa berlekas-lekas dimana kulit saya menikmati kulitnya, dan kulitnya menikmati kulit saya, sebab kami telah menanggalkan semua pakaian. Dan kami berkeringat. Lalu setelah usai, kami akan bercerita satu sama lain. Tentang apa saja. Setelah itu, saying, kita tertidur. Dan ketika terbangun, kita begitu bahagia. Sebab ternyata kita tidak berdosa. Meskipun saya tidak lagi perawan.”(hal 30)
“Dan aku menamai keduanya puting karena merupakan ujung busung dadamu. Dan aku menamainya kelentit karena serupa kontol yang kecil.” (hal. 198).
“Saman, tahukah kamu, malam itu, malam itu yang aku inginkan adalah menjamah tubuhmu, dan menikamati wajahmu ketika ejakulasi. Aku ingin dating kesana. Aku ajari kamu. Aku perkosa kamu.”(hal 195)

Yaa begitulah ciri khas kepenulisannya. “Pembicaraan tentang seks, cinta, politik, dan agama, serta perasaan-perasaan yang saling bertaut antar para tokoh digambarkan tanpa beban, bebas sebebas-bebasnya Tapi inilah ciri seorang penulis Ayu Utami mengelola kreativitasnya. Dia juga mahir dalam memadukan kata-kata kepenulisannya dengan gaya bahasa yang luar biasa. Seperti dalam kutipan:
“Saya akan pacaran seperti burung berbusung berbusung bersih di ranting tadi. Saya akan pelukan, ciuman,  jalan-jalan, dan minum di Russian Tea Room. Dan kalau dia datang, dia akan tahu sudah terlalu kangen pada bau pelukannya, pada hangat lidahnya yang harum tembakau skoal. Sudah 402 hari seteah ciuman kami terakhir, saya selalu ingat tanggal. Sebab siang itu menyisakan kegetiran, seperti biji duku yang tergigit dan tertelan. Untuk kesempatan lain yang mungkin. Yang barangkali juga tak mungkin”. (hal 2-3)
“Malam harinya, di kamar tidur pastoran, kegelisahan membolak-balikkan tubuhnya di ranjang seperti orang mematangkan ikan di penggorengan.”(hal 73)
“Muka berubah, seperti semangkuk sup panas dan sepotong kerupuk dicemplungkan kesana”  (hal 118).

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar