welcome

Hai hai hai ...
Blog ini adalah blog yang berisi hal-hal seputar pendidikan, kebahasaan, kesusastraan, percintaan dan umum...

Selamat datang di blog saya ...
Selamat membaca tulisan-tulisan saya ...
Semoga menggugah selera ...
Selera Anda adalah inspirasi saya ...


Oh ya jangan lupa silahkan juga kunjungi ...
*my twitter on https://twitter.com/misy_2014
*my email http://profile.yahoo.com/AKCYPOGQN3Q6NZG52KVHGINC6E/
*my linked in : https://id.linkedin.com/pub/anita-misriyah-missy/a4/9b5/31a
*my ask.fm http://ask.fm/mis_missy
*my instagram : anita_misriyah
*my line : Missy


Thank you all ...

Minggu, 12 Mei 2013

Banyak Baca Buku Sebelum Bertanding di Yunani


Nuh Hakim, Pecatur Yunior Semarang
Banyak Baca Buku sebelum Bertanding di Yunani


Prestasi gemilang ditorehkan pecatur remaja asal Semarang, Nuh Hakim (15). Dia berhasil menjadi duta Indonesia menghadapi pecatur papan atas lainnya di ajang bergengsi tingkat internasional, The World School Chess Championships 2013.
SEKITAR satu bulan mendatang, Nuh Hakim akan sibuk mempersiapkan diri menghadapi The World School Chess Championships 2013 yang akan digelar 5-16 Mei di Porto Carras, Halkidiki, Yunani. Menjelang keberangkatan, siswa kelas VIII SMP 32 Semarang itu terus melakukan persiapan.
Putra bungsu dari pasangan Noersijo dan Amalia ini dipercaya mewakili Indonesia lantaran prestasinya di Olimpiade Olahraga Siswa Nasional (O2SN), Juli tahun lalu di Palembang, Sumatera Selatan. Ia meraih emas dengan menyingkirkan Surya Setiawan dari Jabar dan Yoseph T Taher dari Banten.
Surya pernah beberapa kali tampil di kejuaraan tingkat Asia, sementara Taher merupakan salah satu pecatur Indonesia yang turun di SEA Games 2011. Melawan mereka, pecatur yang akan genap 15 tahun pada 22 Juli mendatang itu tak canggung. Hakim tampil percaya diri dan berhasil mengoleksi tujuh poin, mengungguli keduanya yang meraih masing-masing 5,5 poin.
Menjelang ke Yunani, berbagai menu latihan ia lakukan. Termasuk membekali diri dengan membaca lebih banyak buku. Seperti ketika ditemui di rumahnya di Jalan Petolongan 78 Semarang, kemarin, beberapa buku panduan bermain catur menemaninya latihan.
Di antaranya adalah Modern Chess Openings karangan Nick de Firmian. Dari sini dia bisa memperkaya pembukaan Sisilia, yang memiliki variasi Dragon dan Najdorf.
Beberapa buku lainnya adalah Chess Middlegames karya Laszlo Polgar, Batsford Chess Endings karangan Jon Speelman, Jon Tisdall, dan Bob Wade, dan My 60 Memorable Games oleh Bobby Fischer.
’’Beberapa di antaranya dibeli sendiri, sebagian lain merupakan pemberian orang-orang yang bersimpati,’’ kata Amalia, ibu Hakim yang ikut mendampinginya.
Bagi Hakim, buku-buku itu sungguh menginspirasi. Selain dalam bentuk ilmu, semangat yang ditunjukkan pecatur dunia rasanya perlu ia tiru. Dia sangat kagum terutama dengan Fischer. Grandmaster asal Amerika Serikat ini terkenal setelah berhasil mengalahkan juara dunia asal Uni Soviet Boris Spassky dalam pertandingan di Reykjavik pada 1972. ’’Dengan latihan yang rutin, saya yakin dapat mendapat hasil maksimal di Yunani,’’ kata pecatur yang bercita-cita jadi Grandmaster itu.
Dalam berbagai event tingkat provinsi maupun nasional, ia beberapa kali menyabet juara. Sepanjang Mei 2012 hingga sekarang, misalnya, sudah enam medali emas yang ia koleksi, di antaranya dari Kejuaraan Catur Kilat Yunior 16 Tahun di Solo, O2SN Tingkat Jateng, O2SN tingkat nasional, dan Catur Klasik Yunior D di Solo.
Hakim menyatakan sejak kecil bercita-cita menjadi pecatur. Sewaktu masih di taman kanak-kanak (TK), kecintaannya pada catur mulai tumbuh. Namun pada saat itu, tidak ada kejuaraan untuk anak TK. Kemudiaan diikutkanlah dia di kejuaraan tingkat SD. Bertanding di tingkat usia di atasnya tak membuat anak bungsu dari tiga bersaudara tersebut minder. Dia langsung masuk tujuh dari 10 besar.
Amalia bercerita, kecintaan Hakim terhadap catur datang saat dia melihat ayahnya, Noersijo, bermain catur. ’’Saat ayahnya hendak mengakhiri permainan, Hakim datang dan mengacak-acaknya,’’ kata Amalia mengenang. Kemudian, agar tidak melakukannya lagi, Hakim dikenalkan dengan permainan ini. Mula-mula ia diajarai cara menyusun biji catur di papan. ’’Di usia tiga tahun ia sudah bisa menyusun bidak catur,’’ kata Amalia.
Kecintaan itu serupa cinta pada pandangan pertama. Hakim kemudian tekun berlatih di bawah bimbingan sang ayah. Hal ini tidak berlebihan mengingat ayahnya merupakan pecatur Jateng yang tiga kali turun di Pekan Olahraga Nasional (PON). 
Merasa Yakin
Catur begitu mengesankan bagi Hakim kecil. Catur pula yang mengantarnya hingga sekarang. Hampir tiap hari ia berlatih di klub catur Ngabangan, Semarang. Itu selalu dilakukannya usai Maghrib dan pulang pukul 22.00. Kegigihan itu membuahkan hasil.
Tampil di Yunani, dia mengatakan, setiap pecatur dari setiap negara memiliki kesempatan yang sama. Ia yakin dengan persiapan yang dilakukan, hasil maksimal akan ia dapat. ’’Ini pertama kali saya ke luar negeri. Selain berlatih catur, saya juga berlatih bahasa Inggris,’’ kata Amalia.
Kesempatan keluar negeri sangat ia syukuri. Pada 2009, kesempatan itu nyaris datang setelah dia meraih medali di O2SN. Namun, karena yang diraih bukan medali emas dan dana yang ada belum terkumpul, niat itu ia urungkan. ’’Saya sangat ingin waktu itu. Namun ketika saya sudah tak terlalu ingin, malah ada kesempatan ke Yunani,’’ kata Hakim.
Di balik sukses Hakim, ada Amalia yang selalu memberi motivasi. Amalia selalu mengatur jadwal dan mendorong sang anak untuk terus berprestasi. Namun, dia tak pernah memaksa Hakim untuk berlatih. Ia biarkan sang anak berlatih sesukanya.
Ia berharap agar kelak apa yang dicita-citakan anaknya tercapai, menjadi atlet sukses dan pemimpin yang bijaksana. Itu seperti harapan dalam nama yang ia berikan, Nuh Hakim. ’’Nuh’’ berarti nabi atau pemimpin, ’’Hakim’’ berarti bijaksana. (Nurul Muttaqin-71)
(/
Untuk berita terbaru, ikuti kami di Twitter Description: twitter dan Facebook Description: Facebook                                             
Bagi Anda pengguna ponsel, nikmati berita terkini lewat http://m.suaramerdeka.com 

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar