welcome

Hai hai hai ...
Blog ini adalah blog yang berisi hal-hal seputar pendidikan, kebahasaan, kesusastraan, percintaan dan umum...

Selamat datang di blog saya ...
Selamat membaca tulisan-tulisan saya ...
Semoga menggugah selera ...
Selera Anda adalah inspirasi saya ...


Oh ya jangan lupa silahkan juga kunjungi ...
*my twitter on https://twitter.com/misy_2014
*my email http://profile.yahoo.com/AKCYPOGQN3Q6NZG52KVHGINC6E/
*my linked in : https://id.linkedin.com/pub/anita-misriyah-missy/a4/9b5/31a
*my ask.fm http://ask.fm/mis_missy
*my instagram : anita_misriyah
*my line : Missy


Thank you all ...

Sabtu, 06 Oktober 2012

Nilai Estetika / Nilai Keindahan


 Nilai Estetika


1.        Kajian Nilai Estetika
Dilihat dari perspektif sejarahnya, estetika merupakan cabang dari filsafat atau biasanya disebut dengan filsafat keindahan. Pada mulanya estetika disebut dengan istilah keindahan (beauty). Akar kata beauty berasal dari bahasa latin bellus yang diturunkan melalui bonus, bonum yang berarti sesuatu yang baik., sifat yang baik, keutamaan dan kebajikan, lalu diturunkan menjadi aistheta yakni hal yal-yang dapat ditanggapi oleh indra (Ratna, 2007:2-3). Estetika ialah cabang filsafat yang berkenaan dengan analisis konsep-konsep dan pemecahan persoalan yang timbul bilamana orang merenungkan tentang benda-benda estetis terdiri dari semua benda dengan pengalaman estetis (Gie, 2004:129).
Sementara istilah estetika, baru digunakan sekitar abad ke-18.  Pada dasarnya kajian estetika akan mengungkapkan keindahan karya sastra mengenai fenomena yang penuh bunga-bunga dan aroma. Karenanya diharapkan mampu menangkap keindahan didalamnya. Keindahan adalah cipataan pengarang dengan seperangkat bahasa. Melalui eksplorasi bahasa yang khas, pengarang akan menampilkan aspek keindahan yang optimal. Namun tidak hanya unsur bahasa saja, tetapi juga mnyeluruh ke unsur-unsur pembangun sastra (Endraswara, 2008:68).
Jadi dapat disimpulkan bahwa estetika dan karya sastra sangat erat kaitannya. Dalam karya sastra kajian keindahan dapat ditinjau dari tiga sisi, yaitu keindahan fenomena penuh bunga-bunga dan aroma, keindahan seperangkat bahasa, dan unsur-unsur pembangun sastra.

2.        Unsur-Unsur Estetika
Dalam abad ke-20 ahli estetika modern melalui Gie (2004:43) menegaskan bahwa ada tiga unsur yang menjadi sifat-sifat yang membuat baik atau indah suatu karya estetika. Ketiga unsur tersebut sebagai berikut.
a.        Kesatuan/unity
Unsur ini bahwa karya sastra estetis tersusun secara baik ataupun sempurna bentuknya. Kalau pada puisi atau teks lagu tidak dapat dipahami sepenggal saja. Harus dipahami tiap barisnya. Setiap baris adalah lukisan suasana tersendiri yang saling melengkapi bagian satu dengan yang lainnya.
b.        Kerumitan/complexity
Karya estetis ini tidak sederhana sekali, melainkan karya dengan isi maupun unsur yang berlawanan atau mengandung perbedaan-perbedaan yang halus. Puisi, meskipun dilihat secara makna sering menimbulkan makna yang kabur atau bisa, tetapi dari segi proses kreatif dan proses imajinatif sebenarnya akan terlihat kejelasan tujuan adanya sebuah karya.
c.         Kesungguhan/intensity
Suatu karya estetis baik harus memiliki suatu kualitas tertentu yang menonjol, bukan sekadar sesuatu yang kosong. Tidak menjadi soal kualitas apa yang dikandungnya (misalnya suasana senang. sedih, sifat lembut atau kasar). Asalkan merupakan sesuatu benda yng sungguh atau intensif.
Dari uraian tersebut, maka dapat disimpulkan karya sastra puisi memiliki sifat-sifat baik/indah karena di dalamnya ada unsur kesatuan setiap bait puisi, kerumitan yang menimbulkan makna kabur, dan kesungguhan yang menjadikan puisi tersebut memiliki kualitas yang menonjol.

3.        Asas-Asas Bentuk Estetis
Menurut rincian Hunter Mead melalui Gie (2004:74-76), nilai estetika dapat dibedakan menjadi tiga ragam sebagai berikut.
a.        Sensuous/ragam inderawi
Yakni keindahan yang terjadi dari warna-warni, susunan nada yang diserap melalui indera.
b.        Formal/ragam bentuk
Yakni keindahan yang terjadi dari semua macam hubungan seperti kesamaan, kemiripan atau kontras.
c.         Associative/ragam perserikatan
Yakni nilai estetis yang memberi arti tertentu dengan hal-hal lain (benda, ide, kejadian). Misalnya kejadian menyenangkan yang akan selalu dikenang.
Dari uraian tersebut, dapat dibuat simpulan yang menyatakan bahwa nilai estetika mempunyai beragam bentuk. Ada ragam inderawi, ragam bentuk, dan ragam perserikatan.


DAFTAR PUSTAKA

Endaswara, Suwardi. 2008. Metodologi Penelitian Sastra. Yogyakarta: Med Press.
Gie, The Liang. 2004. Filsafat Keindahan. Yogyakarta: Pusat Belajar Ilmu Berguna (PUBIB).
Ratna, Nyoman Kutha. 2007. Estetika Sastra dan Budaya. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar